Berita, Kegiatan

 KEGIATAN DIKLAT MPK SMA A. WAHID HASYIM TEBUIRENG RADAR AU

Pusat Radar 212 Angkatan Udara, Kabuh – JombangUdara pagi di Pusat Radar 212 AU Kabuh masih sejuk.

Lokasi:

Pohon-pohon besar di kanan kiri jalan jadi saksi ratusan siswa SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng duduk rapi di tepi aspal.

Mereka bukan duduk santai. Ini hari pertama DIKLAT KEPIMPINAN DAN KEDISIPLINAN yang digelar selama 3 hari 2 malam bekerja sama dengan TNI AU.1. PEMBUKAAN & MATERI DARI PEMBINA Seperti di foto, tampak para pelatih dari TNI AU dengan seragam loreng dan kaos merah hitam berdiri di tengah barisan.

Salah satu pembina memegang mic, suaranya lantang memecah hening: “Anak-anak! Duduk tegak! Minum dulu baru lanjut materi! “Ratusan siswa putra berkaos biru dongker dan siswa putri berhijab biru duduk bersila. Di depan masing-masing ada botol minuman. Wajah mereka serius, mendengarkan materi tentang disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Para pelatih berkeliling. Tegas, tapi juga membimbing. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tapi membentuk mental baja ala Wahid Hasyim.

2. RANGKAIAN KEGIATAN SELAMA DIKLAT

Selama di Pusat Radar Kabuh, siswa digembleng dengan:Materi Baris-Berbaris & PBB: Melatih kekompakan, kekaryaan, dan ketaatan perintahWawasan Kebangsaan & Bela Negara: Langsung dari anggota TNI AU. Cerita tentang tugas menjaga langit IndonesiaOutbound & Ketangkasan: Jalan di medan, kerja tim, dan survival dasar di area hutan sekitar radarTata Cara Upacara & Kepemimpinan: Setiap pleton dipimpin langsung oleh siswa. Melatih jadi pemimpinIbadah & Muhasabah: Tetap dijaga. Sholat berjamaah dan doa bersama di tengah alamMalam harinya ada api unggun dan sharing. Banyak siswa yang cerita: “Ternyata capek itu enak, Pak. Jadi tau rasanya disiplin.

3. MAKNA DI BALIK DIKLAT

Lokasi di Pusat Radar bukan tanpa alasan. Radar itu simbol “awas dan siaga”. Sama seperti yang ingin ditanamkan ke siswa SMA A. Wahid Hasyim:”Jadi pelajar yang peka, disiplin, dan siap jadi pemimpin masa depan bangsa”Dari anak yang awalnya ramai dan bercanda, 3 hari kemudian pulang dengan langkah lebih tegap, suara lebih lantang, dan salam yang lebih hormat ke guru.

4. PENUTUP

Di akhir diklat, pembina berpesan:
Ilmu di kelas penting. Tapi mental dan karakter dibentuk di lapangan seperti ini. Jaga nama baik Almamater SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng!”Sorak “Siap 86!” menggema di antara pepohonan Kabuh.Diklat selesai. Tapi pelajarannya dibawa pulang ke Tebuireng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *